Senin, 17 Agu 2026
x wownusantara


Untuk PSSI Yang Belum Merdeka BAL-BALAN USIA MUDA DIKELOLA SECARA “OUT SOURCING”

waktu baca 11 menit
Kamis, 13 Agu 2026 05:31 28 Redaksi

Untuk PSSI Yang Belum Merdeka
BAL-BALAN USIA MUDA DIKELOLA SECARA “OUT SOURCING”

Opini : Erwiyantoro, Ketua Indonesia Peduli Olahraga

Mbah Coco, mencoba utak-atik cerita pendek-pendek tentang kacau-balau, semrawutnya organisasi PSSI, di bawah naungan “tikus got” Erick Thohir dan rekan-rekannya. Kebetulan, hari-hari ini, menjelang HBD Republik Indonesia ke-81, Senin 17 Agustus 2026 mendatang.

Momentum HUT RI ke-81, bisa dijadikan renungan, sekaligus otokritik. Apakah sepakbola Indonesia, bisa seperti, ambisi Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, bahwa FIFA World Cup 2030, lolos ke putaran final? Apakah ini hanya omon-omon? Atau, justru mampu sebagai pelecut kepengurusan organisasi PSSI berikutnya? Hanya supir bajay yang bisa menjawab.

Tanggal, 17 Desember 1995, saat drawing EURO 1996, di kota Birmingham, salah satu ambassador Mastercard, sponsor Piala Eropa, mengundang Edson Arantes dos Nascimento, yang dikenal dengan nama Pele. mBah Coco, bersama kru Planat Football, RCTI dapat kesempatan ngobrol bareng Pele, di gedung ICC, Birmingham.

“Sepakbola itu, mimpinya anak-anak miskin,” jawab singkat Pele

Tigapuluh tahun berikutnya, di akun facebook ini, mBah Coco menambah statemen filosofi Pele. “Sepakbola mimpinya anak-anak miskin. Tapi, wajib dikelola oleh manusia-manusia yang cinta sepakbola, serta punya duwit yang nggak berseri.”

Ferril Raymons Hattu, mantan kapten tim nasional, peraih medali emas SEA Games 1991, menganalisis perkembangan sepakbola modern. Dulu tahun 80-an, pemain-pemain yang berada di klub Galatama atau Perserikatan, latihan tiga kali dalam seminggu. Hari ini, rata-rata klub profesional atau amatir, juga masih latihan tiga kali, dalam seminggu.

Di negara-negara yang sudah maju atau yang sedang ingin maju, dalam pergaulan sepakbola dunia, setiap klub oleh pelatih-pelatihnya, punya program latihan setiap hari. Berbeda variasi. Ada hari latihan fisik, ada hari latihan ketahanan kaki dan badan (fitness), ada jam-jam khusus latihan skill kaki, ada latihan game kecil. Dan, tentunya ada latihan taktik strategi menjelang kompetisi.

Untuk membangun pusat latihan, agar pemain setiap hari bisa berlatih, di lapangan atau pun di gedung fitness. Maka, menurut mBah Coco, setiap pemilik klub harus investasi lahan dan pembangunan gedung, yang mewah, nyaman serta sehat.

Pertanyaan mBah Coco. Berapa kira-kira duwit yang harus dikeluarkan investor klub?

Klub-klub modern, dan berambisi semakin modern, selalu memiliki “buku putih.” mBah Coco mencoba membedah, buku-buku tentang membangun pembinaan usia muda – youth development.

Ada enam (6) syarat, menurut mBah Coco setiap klub wajib membangun pembinaan usia muda, khusus masalah Coaching (pelatih), Fitness (kebugaran dan kekuatan tubuh), Parents (pentingnya orang tua), Refereeing (aturan wasit usia muda), Psychology (perkembangan kejiwaan anak-anak), serta Club (manajemen).

Nyaris, di semua klub-klub elit anggota Liga 1, menurut mBah Coco, tidak pernah peduli, dan tidak paham, bagaimana membangun bisnis sepakbola dari usia muda, hingga setiap klub mampu memetik hasilnya. Lihat saja, klub Barcelona. Lamine Yamal, belum menjadi pemain legenda, sudah muncul, pmain berbakat usia 16 tahun, bernama Ebrima Tunkara (10 Maret 2010).

Anggota klub Liga 1 Indonesia, setiap musim, untuk mengontrak pemain asing, diperkirakan harus keluarkan anggaran sekitar Rp 30 hingga 50 miliar (mengontrak 11 pemain asing). Jika, setiap klub, serius dan benar-benar ingin bisnis dan membangun ekosistem sepakbola modern, menjadi industri. Anggaran Rp 50 milyar, menurut mBah Coco, sudah bisa membangun lahan sport center, traning center, dan mess pemain.

Anggaran Rp 50 miliar, selain sudah punya traning center, juga sudah bisa merekrut pemain-pemain berbakat, dari berbagai kantong-kantong penghasil pemain nasional, selama ini. Bahkan, setiap klub, sudah bisa men-support, wadah kompetisi di kotanya masing-masing, mengajak Askot (Asosiasi Kota), untuk menggelar wadah kompetisi pembinaan usia muda.

Kalau mBah Coco bercerita lewat tulisan di facebook, dijamin gerbong “tikus got” Erick Thohir akan plonga-plongo bloon permanen, nggak paham. Maklum, sejak bayi, Erick Thohir itu, hanya tahu cabang olahrga basket. Giliran, masuk politik, seolah-olah paham sepakbola!

Apakah PSSI punya “buku putih” tentang sepakbola Indonesia?

Jika ingin melihat sejarah sepakbola Indonesia, dalam perjalanan tim nasionalnya. Cukup, berkiblat dari Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Papua. Kalau, masih mau ditambah, ada Yogyakarta dan Solo. Artinya, untuk membangun sepakbola prestasi ke level internasional, fokus dan konsentrasi saja di 10 kota tersebut.

Sebagai pilot project, PSSI fokus membangun wadah kompetisi usia muda di kota-kota yang disebut mBah Coco, dengan metode syarat-syarat digarap secara serius, sehat dan profesional.

Agar bisa semakin modern, menurut mBah Coco, cukup mencontoh konsep pembinaan sepakbola di empat negara, yang sudah terbukti, manjur, makyus, dan makjleb. Yaitu, Jepang, Qatar, Uzbekistan dan Vietnam. Nggak usah jauh-jauh ke Eropa. Dan, nggak usah “nyolong” pemain dari hasil pembinaan Belanda., seperti yang dilakukn Erick Thohir,

Pertanyaan mBah Coco.

Kemana perginya alumni Indonesia U-17 yang dilatih Bima Sakti, saat diterjunkan ke FIFA U-17 World Cup 2023 Indonesia? Apakah PSSI peduli tentang jejak anak-anak muda yang sudah mewakili Indonesia? Kemana perginya alumni Indonesia U-20 yang yang diarsiteki Kurniawan Dwi Yulianto?

Apakah, para pemin “young guns” sudah direkrut klub-klub elit anggota Liga 1, atau 2 Indonesia?

Jawabnya, tidak digubris dan dicuekin.
Karena, semua pemain klub-klub anggota Liga 1 Indonesia, lebih nyaman dan nikmat dihuni para pemain asing. Tujuannya hanya satu. Setiap klub, berlomba-lomba ingin menjadi juara Liga 1 Indonesia.

Pertanyaanya, tim nasional Indonesia dapat apa, setelah klub-klub berlomba-lomba jadi juara? Kemana pemain nasional yang diterjunkan di level-level junior, hingga tim senior?

Kompetisi kasta tertinggi di republik “sontoloyo” ini, hanya menghasilkan pemain asing. Padahal, tujuan utama wadah kompetisi setiap negara di kolong langit, hanya satu misi dan visinya, melahirkan pemain nasional. Piye, jal?

Buat apa membakar uang hampir sekitar lima (5) triliyun rupiah setiap musim di Liga Indonesia? Untuk apa, semua klub anggota Liga 1 Indonesia, selalu tekor dan hutang kembali, sehabis selesai berkompetisi? Jawabnya, karena ada rumah judi yang memelihara mereka-mereka, bro!

Kira-kira otak para pengurus PSSI dan anggota EXCO-nya itu, mikirian apa selama duduk di organisasi, yang berdiri sejak 19 April 1930?.

Kalau, Ir. Soeratin Sosorosoegondo, pendiri PSSI masih hidup, mungkin sudah kena stroke, melihat polah tingkah laku pengurus PSSI, yang otaknya sudah mafioso, membangun kartel, serta sudah pongah.

Seolah-olah PSSI itu milik keluarga mereka. Mirip sekali, dengan FIFA saat ini, saat dikelola Gianni Infantino.

Bisa dibayangkan, saat ini, kondisi pembinaan sepakbola usia muda, yang dikelola PSSI atas nama PT Liga Indonesia Baru (LIB). Khususnya, saat ada regulasi, bahwa anggota Liga 1 Indonesia (BRI Super League), harus memiliki kelompok U-16, U-18 dan U-20. Sedangkan, Liga 2 Indonesia (Pegadaian Championship), wajib memiliki kelompok U-20.

Pembaca artikel mBah Coco, mau tahu, atau sekadar tahu, secara gratis jawabannya?

Dari hasil CCTV mBah Coco, menjelang kompetisi BRI Super League Indonesia 2026 – 27, ada empat (4) klub, yang sedang mempersiapkan skuad tim intinya di kasta tertinggi. Namun, juga wajib mempersiapkan Elite Pro Academy (EPA), kelompok U-16, U-18 dan U-20. Mereka adalah Persik Kediri, Dewa United, Garudyaksa FC dan Persita Tengerang.

Kesimpulannya, keempat klub yang dipantau CCTV mBah Coco, ternyata bodong, tanpa memiliki academi, dan setiap musim hanya mengandalkan konsep “OUT SOURCING.” Yaitu menyewa klub yang sudah ada, baik di daerahnya sendiri, atau di luar kota. Atau, seolah-oleh melakukan seleksi, untuk mengibuli PT LIB (Padahal gerbong dirut Ferry Paulus sudah paham).

mBah Coco, sangat yakin sekali, bahwa PT LIB dan PSSI sejatinya mengetahui, klub-klub sebagian anggota BRI Super League Indonesia itu, memang “out sourcing.” Namun, terkesan melakukan pembiaran.

Mekanismenya, kira-kira seperti dibawah ini.

Manajemen Persik Kediri, Dewa United, Garudayaksa dan Persita Tangerang, membentuk divisi EPA. Kemudian, karena anggaran membangun academ, tidak banyak. Mereka melakukan kerjasama dengan klub-klub SSB, klub amatir, atau pun klub anggota Liga 4 (Liga Nusantara).

Agar tidak terlalu mencolok, divisi EPA keempat klub tersebut, mencari cuan, dengan cara-cara yang sangat jorok, dan tidak mendidik. Seolah-olah divisi EPA melakukan seleksi, untuk bisa menambah atau mendapatkan para pemain usia muda, dari berbagai daerah se-Indonesia.

Caranya? Rata-rata, setiap pemain yang ingin masuk dalam skuad EPA setiap klub, dan setiap kelompok, dikenakan bayaran Rp 300 ribu. Kompensasinya, setiap pemain mendapatkan jersey klub, sebagai kompensasi. Misalkan, Garudayaksa, si pemain bayar Rp 300 ribu, dapat jersey, berlambang Garudayaksa FC.

Biasanya para pemain bangga, orangtuanya ikut bangga. Maklum, mereka mimpi menjadi pemain profesional, syukur-syukur pantas sebagai calon pemain nasional.

Yang sangat menjijikan, mereka seolah-olah di seleksi. Namun, setiap pemain hanya diperkenalkan, hanya dapat menit bermainnya sangat minim sekali. Ada yang cuman 10 menit, ada yang 30 menit, atau ada yang 70 menit. Semuanya, hanya “SELEKSI SEMU” alias kamuflase, alias kibul-mengibul.

Nanti proses berikutnya, para oknum divisi EPA setiap klub, punya tim seleksi di daerahnya masing-masing. Untuk menyeleksi 3 sampai 5 pemain, dari masing-masing daerah dari sekitar 100 sampai 200 calon (jumlahnya beda-beda wilayah). Dan, puncaknya, terpilihnya, sekitar 200 sampai 300 pemain usia muda dari seluruh Indonesia, untuk seleksi akhir, di pusat, Jakarta misalnya.

Garudayaksa FC, seleksinya di Sentul. Maka, semua pemain yang lolos seleksi dari 38 provinsi, berangkat ke Jakarata, dengan biaya sendiri, mengikuti seleksi akhir. Karena, anaknya lolos seleksi, bapaknya yang pontang-panting cari dana berangkat ke Jakarta.

Namun, selama seleksi dua tiga hari di Jakarta. Pelatih dari divisi EPA Garudayaksa FC, seolah-olah memilih pemain, sesuai dengan keinginan taktik strategi pelatih, yang akan diterjunkan di kompetisi EPA.

Padahal, aslinya para pemain yang diseleksi itu, hanya SELEKSI SEMU. Seolah-olah seleksi. Nyatanya, hanya untuk mencari cuan.

Bayangkan, jika di setiap daerah, ada 100 pemain yang siap di seleksi, untuk dipilih 2 sampai 5 pemain, untuk seleksi akhir, dengan membayar Rp 300 ribu. Kalikan saja, jika ada Rp 300 ribu, dikalikan 100 pemain, dan kemudian dikalikan 38 provinsi. Berapa oknum-oknum divisi EPA setiap klub, mendapatkan cuan?

Kemudian, beberapa klub anggota BRI Super League Indonesia, sudah melakukan kontrak kerjasama dengan klub-klub academy di Jakarta dan sekitarnya, secara diam-diam, untuk di “OUT SOURCING”. Menurut CCVT mBah Coco, ada berapa klub academy, yang biasa melakukan kerjasama dengan anggota elit Indonesia,misalnya Asiana, Asiop dan ISA Diklat.

Mereka-mereka mengontrak para pemain yang terpilih dari SELEKSI SEMU, untuk satu musim (biasanya bayarannya bulanan). Sekadar pinjam nama akademi. Setelah selesai kompetisi, mereka dilepas. Jika memang ada yang berbakat secera cerdas, mereka lanjut dikontrak masuk tim bayangan ke jenjang EPA berikutnya.

Kasihan benar, anak-anak muda itu, tidak dikasih wadah membangun sistem pembinaan berkesinambunga, sehat, dan jujur. Mimpi anak-anak, hanya sebatas sampai usia 20. Lebih dari itu, semua dibuangnya seenak jidatnya!

Konsep “OUT SOURCING” yang dilakukan banyak klub-klub BRI Super League dan Pegadaian Chamiponship Indonesia, menurut mBah Coco, benar-benar konsep pembinaan yang amburadul, semrawut dan tanpa arah.

Dulu, jaman Edi Rahmayadi ke Iwan Bule, jadi orang nomor satu di “kursi panas” PSSI, pernah melakukan kerjasama dengan Group Djarum, diwakili MOLA. Tujuannya, bisa digunakan MOLA dalam program SCR-nya, membentuk Garuda Select, yang berhomebase di Birbingham, Inggris.

Namun, Group Djarum nggak betah dengan cara-cara PSSI, karena sering dipalaki dan dibohongi Iwan Budianto, saat menjabat sebagai Plt Ketum PSSI, setelah Edy Rahmayadi mundur. Kemudian, diganti Joko Driyono yang juga mundur, akibat ditangkap masuk penjara.

mBah Coco sejatinya maklum melihat kondisi sepakbola Indonesia, khususnya manajemen klub-klub yang seolah-olah professional, namun aslinya masih sangat amatiran, dan doyan akal-akalan busuk.

Pasalnya, lihat saja anggota klub-klub BRI Super League Indonesia (Liga 1), setiap musim untuk anggaran operasional, membutuhkan dana Rp 75 hingga 250 miliar. Sedangkan, untuk Pegadaian Championship (Liga 2), wajib menggelontorkan dana operasional, sekitar Rp 5 hingga 20 miliar).

Musim ini, pihak PT LIB, setiap klub Liga 1 dibebani, memiliki dan mengelola EPA U-16, U-18, dan U-20, sedangkan Liga 2 wajib memiliki kelompok U-20. Belum lagi, ada beberapa klub, mulai Oktober mendatang, juga memiliki klub anggota Liga Wanita. Namun, PT LIB, tidak memiliki aturan baku yang super ketat.

Hasilnya, menurut mBah Coco, ya pantas sekali, kalau Indonesia U-17 yang pernah disiapkan ke FIFA U-17 World Cup 2023 lalu, semuanya hilang ditelan jaman. Begitupula, setelah Indonesia U-20 yang dipersiapkan si “Kurus” Kurniawan, juga entah kemana, di telan jaman?

Kualitas pemain yang direkrut seleksi Indonesia U-17 dan U-20, menurut mBah Coco, pemainnya rata-rata diambil dari konsep “OUT SOURCING”, bukan hasil wadah EPA milik asli klub-klub anggota BRI Super League Indonesia, yang diterjunkan dalam wadah kompetisi yang sesungguhnya, menggunakan sistem home and away.

Rata-rata, sejak usia muda, para pemain, tidak memiliki jam terbang, tidak memiliki statistik permainan, dan tentunya, tidak memiliki skill, teknik, fisik dan mental yang teruji. Karena, dikelola secara ugal-ugalan lewat “OUT SOURCING” alias asal ada bentuk fisiknya.

mBah Coco, nggak habis pikir. Kira-kira para pelatih yang dikontrak klub-klub BRI Super League Indonesia, khususnya membentuk EPA U-16, U-18 dan U-20 ini, ilmu kepelatihannya, dapat dari mana lisensinya? Jangan-jangan lisensinya “bodong”, asalkan bisa seolah-olah ikut, dan bayar. Tapi, tanpa knowledge, tanpa kreatifitas dan tanpa punya adab dan etika.

Sepakbola Indonesia, sudah rusak bener sebelum berkembang. Mereka, “dibunuh” pelan-pelan sejak usia muda. Mereka hanya bisa “mimpi” di siang bolong. Tanpa arah dan tujuan oleh menajemen klub yang seolah-olah katanaya profesional..

Menurut mBah Coco, untuk membangun wadah kompetisi usia muda – youth development, ada empat unsur yang wajib diperhatikan pelatih, untuk merekrut para pemain berbakat, yaitu masalah teknik, kecepatan, personaliti (mental), dan intelegensi.(IQ).

Yang membuat mBah Coco binggung dan linglung. Garudayaksa FC saat ini, asal muasalnya, saat didirikan oleh Prabowo Subianto, berbentuk academy. Membangun traning center yang super mewah. Seharusnya, sudah teruji mencetak pemain usia muda. Namun, kok masih mencari pemain untuk EPA?

Yang lebih nggak nalar, ketika setiap klub BRI Super League Indonesia, khususnya untuk EPA U-16, U-18 dan U-20 setelah juara. Tidak satu pun, yang pernah dilirik klub-klub luar negeri. Dan, jarang sekali yang istimewa, untuk dijadikan “young guns” di klub-klub anggota elit Indonesia.

Mengapa?
Karena, semua pemain EPA U-16, U-18, dan U-20 direkrut dan dikelola dengan cara-cara “OUT SOURCING.” Mattiiiiiiii akkkkkuuuuuuu Tiiiiiiii !

Akhirnya, komentar Pele masih sangat relevan dengan kondisi sepakbola Indonesia saat ini. “Sepakbola mimpinya anak-anak miskin.” Ditambah komentar mBah Coco,” Tapi, wajib dikelola oleh manusia-manusia yang cinta sepakbola, serta punya duwit yang nggak berseri.”

CATATAN:
Kira-kira Jonh Herdman, pelatih nasional Indonesia, kalau melihat dan mendengar cerita ini. Bisa-bisa pusing “tujuh keliling.”

Kira-kira Simon Tahamata, yang dijadikan kiblat PSSI mengelola wadah youth development saat ini, perasaan bathinya, bijimane?

LAINNYA
x wownusantara