Senin, 17 Agu 2026
x wownusantara


Menjelang BRI Super League Indonesia 2026/2027

waktu baca 12 menit
Selasa, 11 Agu 2026 08:52 30 Redaksi

Menjelang BRI Super League Indonesia 2026/2027
SEMUA KLUB INDONESIA NYARIS BODONG TANPA ASSET


Opini : Erwiyantoro, Ketua Indonesia Peduli Olahraga

Banyak yang melihat bahwa, tim sekaliber Persib Bandung, atau Persija Jakarta atau Persebaya Surabaya, adalah klub elit Indonesia, yang terlihat, terkesan dan dinilai glamour. Nyatanya, versi mBah Coco, klub-klub elit tersebut, nyatanya bodong, tanpa asset.

Bahkan, Bali United, klub bodong sejak lahir, seolah-olah yang sudah melantai di bursa saham pun, go-public dianggap klub selebritis. Namun, kalau mau melihat lebih dalam, aslinya. Cepat atau lambat, Bali United, hanya menunggu runtuhnya di kedalaman pulau Dewata.

Apa yang mendasari mBah Coco, bahwa nyaris 100% semua klub-klub anggota BRI Super League Indonesia 2026 – 27 dan Pegadaian Championship (Liga 2) itu bodong? Padahal, mereka dipastikan akan mengeluarkan dana milyaran rupiah, untuk 11 pemain asing, plus pelatih asing dan para asistennya.

Dibalik gemerlap yang seolah-olah klub-klub yang awalnya bond-bond perserikatan di jaman berdirinya Republik Indonesia tersebut. Sejatinya, menyimpan “bom atom” yang siap meledak kapan saja.

nBah Coco, mencoba membedah borok-boroknya klub elit Indonesia. Dan, Ketika mendaftarkan diri, agar bisa go-public, mudah ditolak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Manajemen Persib Bandung, boleh dan mampu mengelola Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Tapi, sampai kapan pun, GBLA itu bukan milik manajemen Persib Bandung, dibawah naungan PT Persib Bandung Bermatabat (PBB). Bahkan, ada rumor, bahwa PT PBB, siap melantai ke Bursa Efek Indonesia, lewat Initial Public Offering (IPO), agar bisa mendapatkan dana segar.

Minimal, yang pernah didenger-denger mBah Coco, ada tiga klub yang ingin mencontoh Bali United, yang lebih dulu membangun kerajaannya ke Bursa Efek Indonesia, go-public, berdansa melantai, setelah melakukan IPO. Yaitu Persija Jakarta, Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.

Ketika, sepakbola Indonesia, belum masuk ke bisnis entitas yang sehat, dengan siklus ekosistim bisnis yang sehat. Kasus Bali United, tidak akan bisa diulang oleh Persib Bandung, Persija Jakarta dan Persib Bandung, untuk bisa mendapatkan ijin go-public dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), agar tidak kecolongan lagi, seperti Bali United.

OJK, merasa hadirnya Bali United masuk IPO berdansa di bursa saham, ternyata dianggap bodong dan tidak sehat. Karena, syarat-syarat masuk ke BEJ, minimal harus 5 (lima) musim berturut-turut, dari holding hingga anak perusahaanya, memiliki keuntungan, yang dinilai OJK pantas mendapat lisensi IPO.

Pertanyan mBah Coco.

Apa asset PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BBS), khusus Bola, milik Pieter Tanuri? Apakah Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar itu milik Pieter Tanuri? Apa lapangan tempat Latihan Bali Traning Academy itu, lahan asset milik Pieter Tanuri?

Dari hasil CCTV mBah Coco, semua yang kini dikelola Bali United itu, adalah bukan asset pribadi Pieter Tanuri dan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar itu milik Pemda Bali, disewa lima tahun sekali oleh Pieter Tanuri. Lapangan Bali Traning Academy itu, disewa selama 25 tahun, oleh pemilik orang Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Lalu apa asset PT Bali Bintang Sejahtera Tbk?

Jika nantinya, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, akan dijual Pieter Tanburi, karena sahamnya di BEJ merosot terus, setelah sejak 17 Juni 2019 trctat di BEJ saham awal dijual Rp 175 per lembar, melambung 69.14% menjadi Rp 269 per saham. Hingga, Pieter Tanuri meraup sekitar Rp 350 miliar, dari 33% saham kepemilikan yang dilempar sebagai saham perdana.

Namun, sampai tulisan ini dicemplungi ke facebook, menurut mBah Coco, terhitung nilai saham per lembar, harganya Rp 161. Terlihat selalu statis cenderung turun terus nilainya.

Sementara, prestasi Bali United, tidak pernah lagi menanjak, sejak juara Shoppe Liga Indonesia 2019, dan BRI Liga Indonesia 201 – 22. Di akhir musim 2025 – 26, posisi Bali United ada di urutan ke-8.

mBah Coco, pernah ngobrol bareng Pieter Tanuri, tentang perkembangan Bali United. “Saat ini, kondisi Bali United sedang tidak baik-baik saja. Stadion hanya bisa disewa lima tahun sekali, penonton tidak nambah, sponsor juga biasa-biasa saja. Saham BBS Harga pemain selangit. Pusing saya,” tutur Pieter Tanuri.

Menurut Pieter Tanuri, PT BBS Tbk, bergerak di tiga bidang, sepakbola, entertaint dan penyewaan traning center. Dalam kondisi sehabis Covid-19 hingga hari ini, bisnis di Bali lambat larinya. Sedangkan, sepakbola sejak kasus “Tragedi Kanjuruhan” 1 Oktober 2022, melambat dan penonton dibatasi.

Menjelang BRI Super League Indonesia 2026 – 27, yang akan dijadwal kick off, 4 September 2026 mendatang, ujug-ujug dalam Kongres PSSI Tahunan, yang digelar 3 Agustus 2026 lalu, membuat keputusan yang masing ngawur, dan tidak sehat, Ketika salah satu anggota Liga 1 Indonesia, Malut United FC, diputuskan boleh pindah homebase di Stadion Jatidiri, Semarang, dengan nama anyar Java United FC.

PSSI menurut mBah Coco, memang tidak pernah paham apa itu sepakbola profesional, dan bagaimana membangun sepakbola profesional? Sehingga, dengan mudah klub-klub anggota Liga 1, 2 dan 3 seenak jidatnya menjual dan berganti jubah nama klubnya Tanpa memperdulikan identitas daerah, ikatan bathin suporter, sejarah klub, warna dan logo serta julukan.

Menurut catatan mBah Coco, Malut United, awalnya dari Putra Jombang FC (liga 4), menjadi Putra Delta Sidoarjo (liga 3), dan Malut United (liga 2), dan promosi ke kasat tertinggi musim 2024 – 25. Pemilik aslinya, David Glen Oei, pengusaha tambang asli tiong-ha yang lahir dan besar di Ambon, Maluku.

Gara-gara namanya terserat dalam pusaran skandal yang terendus kasus korupsi ijin tambang, yang membelit nama mantan Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba (almarhum), menurut mBah Coco, yang membuat David Glen Oei, yang aslinya “gila bola” menjadi frustasi untuk mengurus Malut United, sehingga harus “dibuang” ke Semarang.

Pertanyaannya mBah Coco, lagi-lagi sama dengan pertanyaan ke Bali United. Apa asset Malut United, yang kini berjubah anyar Java United FC, jika nantinya akan dijual ke pihak yang ingin membeli klub profesional?

Budaya manusia-manusia yang ingin membangun bisnis sepakbola secara instant, rasa-rasanya sering menjadi “korban” dari ketidaktahuan identitas, asset dan kepemilikan yang ingin dibeli. Hanya membeli nama klub, dan memindahkan homebase, bisa dibeli dengan harga selangit. Padahal, aslinya, asset klub tak ada, alias bodong?

Tapi, harganya seenak jidatnya cara menjualnya, seolah-olah nama klubnya hebat, prestasinya hebat. Padahal, tak punya asset.

Coba, tanyakan ke pemilik awalnya, Putra Jombang FC, assetnya apa? Trus dijual ke Putra Delta Sidoarjo membeli Putra Jombang, ambisinya apa? Ketika dijual ke Malut United, asset Putra Delta Sidoarjo apa?

Pasti, jawabnya kosong blong, alias bodong, tanpa asset fisik. Hanya sebatas selembar nama klub.

Malut United, ketika terjung ke elit sepakbola Indonesia, sudah mencaplok julukan milik Persiter Ternate, “Laskar Kie Raha”. Sudah merayu penggemar sepakbola Ternate, yang rindu, tentang masa lalu Persiter Ternate, yang pernah juara Piala Soeratin 1978. Hanya dalam dua musim,ujug-ujug hijrah ke Semarang.

Bagaimana perasaan masyarakat Ternate? Pasti marah, dongkol dan benci, dengan manajemen Malut United, yang dianggap menipu warga Ternate?.

Sekali lagi, mengelola klub itu, melewati proses panjang, butuh suporter bisa mencintai klub agar setia hadir ke stadion. Butuh identitas, dan tentunya butuh legitimasi. Namun, budaya pengelola klub yang katanya profesional, tidak membutuhkan jejak sejarah klub. Mereka, menurut mBah Coco, seenaknya menjual, dan kemudian dijual lagi, dijual lagi.

PSSI buta hokum. Seandainya ada yang paham, males membaca statuta dan regulasi dari induknya, FIFA. Intinya, PSSI selalu tidak peduli. Bahwa, entitas Badan Hukum (di Indonesia), sangat berbeda, dengan Badan Olahraga (klub sepakbola).

FIFA memiliki rambu-rambu prinsip, di bawah lembaga bernama, Peradilan Olahraga Arbitrase. FIFA tidak pernah bisa melawan Lembaga Peradilan Arbitrase. Sedangkan, Badan Hukum usaha di Indonesia, mekanisme lewat notaris, kemudian KeMennKumHam dan sebagainya, dibawah hukum-hukum yang berlaku di Indonesia.

Untuk membentuk dan mendirikan sebuah klub profesoinal sepakbola, PSSI seharusnya melarang, jika membuat lembaga berbadan hukum, harus mengikuti aturan Lembaga Peradilan Arbitrase, dan prinsip-prinsip FIFA. Tidak boleh hanya melakukan jual-beli. Makanya, wajib melindungi jejak sejarah, warna, logo, suporter, dan identitas.

Kalau menggunakan istilah seni budaya, versi mBah Coco, melindungi secara moral “kearifan lokal”. Ketum PSSI “tikus got” Erick Thohir dan gerbongnya, tidak memahami prinsip-prinsip yang dilindungi FIFA, lewat Badan Arbitrase. Semuanya dianggap sah. Padahal, jelas-jelas, PSSI melanggar prinsip-prinsip moral, meluluskan banyak klub berganti jubah, dan berganti homabase. Itu sudah melanggar asas moral dan etika.

Contoh. Saat Erick Thohir, membeli Inter Milan. Apakah, Inter Milan boleh berpindah ke Jakarta, sebagai homabase, untuk melakoni kompetisi Serie A? Saat Tamim bin Hamad Al Thani, membeli Paris Saint-German, klub elit Paris. Apakah harus pindah homebasenya ke Doha, ibukota Qatar?

Membeli klub profesional, entitas yang paling pokok dan utama, adalah nilai sahamnya, bukan entitas filsofofi klub asalnya. Erick Thohir membeli saham Inter Milan, 70%. Al Thani membeli saham PSG, nilai 85%. Hanya sampai di situ. Erick dan Al Thani, tidak punya hak memindahkan homebase.

Kerusakan yang sudah akut di sepakbola Indonesia, melakukan jual beli klub, tanpa asset fisik, sudah dimulai sejak Persijatim Jakarta Timur dijual ke Palembang, berganti nama. Sriwijaya FC Palembang, dengan nilai Rp 6 miliar, tahun 2006.

Pertanyaanya, apakah Persijatim Jakarta Timur, saat itu sudah berbadan hukum? Apakah hak Mohammad Zein, pengelola Persijatim Jakarta Timur berani menjual? Siapa yang menyuruh menjual? Bagaimana dengan sosial budaya sepakbola masyarakat Jakarta Timur saat ini, apakah ada pembinaan sepakbola?

mBah Coco, tidak perlu membedah satu persatu dari sekitar belasan klub yang berganti jubah, berganti warna, logo dan suporter, di Liga 1, 2, 3 dan 4 Indonesia, sejak kasus Persijatim Jakarta Timur.

Masih contoh yang sama. Persiram Raja Ampat, ujug-ujug karena kehabisan “bensin” di kancah sepakbola nasional. Kebetulan, ada kasus pembekuan PSSI oleh Menpora, Imam Nahrawi, 18 Apri 2015.

Dua intitusi kemanan negara, ujug-ujug diberi kesempatan membentuk klub, agar bisa ikutan kompetisi kasta tertinggi. Dari Persebaya Surabaya abal-abal, disulap sebagai Bhayangkara FC. Sedangkan, Persiram Raja Ampat diambil-alih sebagai PS TNI, tahun 2016. Ditambah satu klub yang bernama Persipasi Bandung Raya, berjubah Madura United FC.

Dan, langsung diperbolehkan, ikut Indonesia Soccer Championship, yang berlangsung tanpa promosi dan degradasi,setelah pembebukan PSSI dibuka “kran”-nya. Jika, regulasi dijalankan dengan benar oleh PSSI dan PT LIB. Maka, saat itu, seharunys PS TNI sudah terkena degradasi. Beruntung, hanya kompetisi antar kampong, yang seolah-olah klub professional.

Namun, khusus PS TNI, yang tidak memiliki legitimasi homebase, dampaknya tidak mungkin mendapatkan suporter. Setiap musim, berganti homebase. Tahun 2017 di Pakansari, Bogor. Tahun 2028, berganti nama menjadi PS TIRA, berhomebase di Bantul. Karena, masih tidak mampu mendatangkan suporter fanatik, akhirnya musim Liga Indonesia 2019, kembali ke Pakansari, Bogor, dengan nama baru PS TIRA-Persikabo.

Setelah satu musim diliburkan, akibat Covid-19, musim 2020. Maka, pada musim Liga Indonesia 2021 -22, lagi-lagi berganti nama sebagai Persikabo 1973. Tujuan utamanya butuh pendukung klub Persikabo yang sudah memilih pendukung fanatic, sejak 2007, yaitu Ultras Persikabo Curva Sud (UPCS).

Namun, di akhir musim 2025, Persikabo 1973, setelah degradasi sejak 2023, tak mampu mendaftarkan diri lagi, untuk berpartisipasi di Liga Nusantara, dan terkubur hidup-hidup. Hingga, saat ini, muncul kembali Persikabo Bogor yang sebenarnya, untuk kembali mengikuti Liga 4, seri 2 wilayah Jawa Barat.

mBah Coco, kembali mencoba menulis ulang, yang sudah berkali-kali, sebagai contoh, bobroknya regulasi PT Liga Indonesia Baru dan PSSI. Gara-gara, tak mampu mengelola sepakbola profesional dengan sehat dan profesional.

Masih ingat, nama Pelita Jaya, Jakarta?

Pelita Jaya berdiri tahun 1985. Gara-garanya, UMS’80 Galatama dibubarkan oleh pemiliknya, William Soeryadjaya, atau di jaman itu mudah dipanggil Om William, orang dekatnya Soeharto, Presiden RI ke-2, pemilik saham Astra Group. Gara-gara UMS’80 sudah doyan main suap menyuap pertandingan.

Akibatnya, satu gerbong ofisial dan pemain ditawarkan ke Nirwan Bakrie, oleh Rahim Soekasah dan Benny Dollo. Gayung bersambut, karena ternyata Nirwan Bakrie tertarik, dan Rahim Soekasah diminta mempersiapkan membangun klub. Akhirnya, namanya Pelita Jaya, Jakarta.

Saat itu, sebagian pemain UMS’80, seperti Nasir Salasa, Robi Maruanaya, Arjuna Rinaldi, Louis Mahodin, dan Benny Dollo diboyong. Ditambah, sebagian pemain PSSI Pelajar Ragunan, yang pernah juara Pelajar Asia 1983 dan 1984 diboyong, seperti Listianto Raharjo, Bonggo Pribadi, I Made Pasek Wijaya, Herry Setiawan, Alexander Saununu, Frans Sinatra Hawue, Theodorus BitBit. Plus, pemain yang sudah selebritis, seperti Rully Nere dan Bambang Nurdiansyah.

Nirwan Bakrie, saat itu sudah dijuluki “Silvio Berlusconi” Indonesia, setelah melakukan kontrak bangun (BOT) Stadion Sanggarha, Lebak Bulus, selama 20 tahun. Maka, dibangunlah stadion dari lapangan becek, dipugar sebagai homebase lumayan modern, berkapasitas 20 ribu penonton.

Karena, Pelita Jaya, Jakarta sulit mendapatakan suporter dan pendukung. Walaupun, sudah juara Galatama 1988 – 1989 dan 1990, dan juara akhir dari Galatama, 1993 – 94.

Namun, lewat cara-cara yang tidak biasa, manajemen Pelita Jaya, setiap bertanding melawan tamu-tamunya. Menghimpun kelompok-kelompok, untuk dibawa berduyun-duyun naik mikrolet atau metromini, dan diberi seragam, sekaligus dikasih tiket masuk, untuk dicetak seolah-olah, sebagai pendukung Pelita Jaya, Jakarta bernama The Commandos.

Sampai awal 90-an, nama suporter Pelita Jaya, The Commandos, yang digagas oleh Rahim Soekasah dan Ferry Indrasjarif (Bung Ferry), menjadi saksi bisu, membangun The Commandos. Nyatanya, ternyata, tidak memuaskan Nirwan Bakrie, sebagai pemilik.

Karena, sudah bertahun-tahun, suporter Pelita Jaya, tidak mampu membangun fanatisme, militan dan tidak mampu mmbentuk suporter super ultras. Maka, Nirwan Bakrie, mulai bosan mengurus Pelita Jaya.

Awalnya, Pelita Jaya dibuang pelan-pelan, sebagai Pelita Mantrans (1997), Pelita Bakrie (1998 – 99), Pelita Solo (2000 – 02), Pelita Krakatau Steel (2002 – 06), Pelita Purwakarta (2006 – 07), Pelita Jabar (2008 – 09), Pelita Jaya FC Karawang (2010 – 12), Persipasi Bandung Raya (2012 – 15). Dan, puncaknya berubah sebagai Madura United (2016 hingga sekarang).

Cerita-cerita dan contoh bobrok pengelola sepakbola profesional Indonesia, sepanjang pengurus PSSI, yang doyan melanggar statuta, melanggar administrasi legal standing klub berbadan Hukum Olahraga, sesuai pinsip-prinsip FIFA, yang dibatasi Lembaga Peradilan Olahraga Arbitrase. Menurut mBah Coco, semua kasus jual-beli klub profesional, akan terulang, dan selalu berulang-ulang, sampai pengurus PSSI, peduli dan paham tentang filosofi sepakbola modern.

Dampaknya,

PERTAMA
Jual beli klub, sudah pasti mencederai “kearifan lokal” yang berbentuk warna, logo, sejarah kota, dan para pendukungnya.

KEDUA
Jual beli klub,,nyatanya tidak ada klub yang katanya seolah-olah professonal, seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, atau pun Persebaya Surabaya, akan sulit bisa mendapatkan lisensi co-public, yang bisa melantai di Bursa Efek Jakarta, seperti Bali United yang sudah terlanjur jeblok.

KETIGA
Jual beli klub, adaslah paradok tentang ekosistim industri sepakbola, di Indonesia. Dan, dipastikan sulit menyentuh hal-hal prinsip dalam sepakbola profesional. Yaitu, tak punya asset homebase, memiliki asset stadion, memiliki asset kantor, memiliki asset tranning ground, yang memiliki nilai jual beli sebuah klub, dan masuk bursa saham.

KEEMPAT
Jual beli klub, tidak akan memiliki splusi sepakbola sebagai industry. Jika, selama, PSSI tidak mampu memiliki regulasi, kepastian jadwal pertandingan kompetisi, yang tidak menguntungkan klub peserta. Hasilnya, setiap klub setiap musim selalu hanya bakar duwit.

KELIMA
Jual beli klub, dijamin mBah Coco, setiap klub, tidak memiliki bangunan academy (bukan out sourcing). Sehingga, dipasyikan, tidak akan mampu mencetak pemain berbakat, jujur, sehat dan profesional.

KEENAM
Jual beli klub, artinya selama ini, PSSI tidak memiliki solusi jitu, bahwa suporter misalkan – Viking bisa hadir ke stadion selalu selamat, dari sejak datang dan pulang, saat nonton pertandingan melawan Persija Jakarta di kandang tim “Metropolis” Jakarta. Otomatis, in come Persija Jakarta, setiap musim, tekor dan hanya bakar duwit. Bayar keamanan dan sewa stadion selangit.

KETUJUH
Jual beli klub, adalah nyata, bobroknya pengurus PSSI. Pasalnya, hanya dipimpin oleh manusia-mansuaia yang tidak memiliki literasi, wawasan, integritas dan visioner dalam membangun sepakbola modern. Penggemar sepakbola di Indonesia, hanya bisa bermimpi, bermimpi, dan kemudian kecewa, serta menghujat lembaga PSSI.

KEDELAPAN
Dari satu sampai tujuh,wajib dilakoni dan wajib harus menurut, apa kata tulisan mBah Coco. Tanpa menurut tulisan mBah Coco, dijamin tetap amburadul, dan bobrok. Sumpeh

LAINNYA
x wownusantara