Wownusantara.com, SEMARANG – Pertandingan pekan ke-32 Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 dan Dewa United FC U-20 di Stadion Citarum, Sabtu (19/4) sore, berlangsung kompetitif namun diwarnai sejumlah insiden yang memicu perhatian.

Dewa United FC U-20 berhasil membawa pulang kemenangan dengan skor 2-1 dalam laga yang berjalan ketat sejak awal. Tim tamu membuka keunggulan melalui Kelivin Ananda Hairulis pada menit ke-16. Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 kemudian mampu merespons dan menyamakan kedudukan lewat gol Aqilah Lissunnah pada menit ke-65.
Memasuki menit ke-81, Dewa United kembali unggul melalui gol Abu Thalib. Gol tersebut sempat memunculkan perdebatan dari kubu tuan rumah yang menilai adanya potensi posisi offside. Meski mendapat protes, keputusan wasit tetap mengesahkan gol tersebut.
Situasi pertandingan kemudian berlangsung dalam tensi tinggi. Adu argumen antar pemain sempat terjadi di lapangan, sebelum akhirnya mereda meski menyisakan ketegangan.

Berdasarkan laporan dan rekaman yang beredar, terdapat insiden kontak fisik yang melibatkan sejumlah pemain dari kedua tim. Hal ini turut memicu kericuhan yang meluas hingga ke area bangku cadangan. Dalam situasi tersebut, beberapa pihak dilaporkan berupaya melerai untuk mengendalikan keadaan.
Selain itu, muncul pula dugaan adanya pelanggaran yang luput dari pengamatan perangkat pertandingan, yang semakin memperkeruh suasana sepanjang laga. Di tengah kondisi emosional, terdapat pula aksi balasan dari pemain yang dinilai sebagai respons atas situasi di lapangan.
Di sisi lain, beredar pula informasi mengenai dugaan adanya ucapan bernuansa rasis. Namun hingga saat ini, hal tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak penyelenggara maupun kedua tim.
Manajemen Bhayangkara FC Youth menyampaikan penyesalan atas jalannya pertandingan yang dinilai tidak lagi kondusif. Mereka menegaskan komitmen untuk menjunjung tinggi sportivitas serta menolak segala bentuk kekerasan dan rasisme dalam sepak bola.
“Kami tidak mentolerir segala bentuk kekerasan dan khususnya rasisme dalam pertandingan. Kami juga mengecam keras segala bentuk provokasi yang terjadi,” demikian pernyataan resmi manajemen.
Terkait insiden di lapangan, pihak manajemen menyebut situasi berjalan dalam tekanan emosional tinggi. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa setiap tindakan di luar batas tetap tidak dapat dibenarkan. Saat ini, manajemen juga tengah mengumpulkan berbagai bukti untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku.
Salah satu pemain Bhayangkara, Alberto, turut menyampaikan permohonan maaf atas reaksinya dalam pertandingan tersebut. Ia mengakui terpancing emosi dan berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Saya minta maaf atas tindakan saya. Semoga ke depan situasi seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Hingga kini, publik masih menantikan klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara kompetisi terkait sejumlah kejadian dalam laga tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai fair play dan pengendalian emosi, khususnya dalam kompetisi usia muda. (sa)
Tidak ada komentar